Tuesday, June 26, 2007

TO LEARN SOMETHING FROM SOMEONE

"Tiap orang pasti punya sisi untuk dipelajari dan berbagi ilmu" demikian pesan singkat yang dikirim oleh sahabat saya beberapa waktu lalu. Kalimat sederhana tetapi mempunyai arti yang mengesankan. Saya mengartikan bahwa sang pengirim haus akan ilmu. Subhanallah! Saya yakin beliau paham betul bahwa mencari ilmu itu sesuatu yang sangat dianjurkan karena dengan ilmu itu akan mendekatkan beliau pada Sang Khalik.

Saya bersyukur karena saya bertemu dan mengenal teman-teman (termasuk sahabat saya itu) yang memiliki ilmu yang berbeda2. Jika ingin bertanya tentang memasak saya bisa menghubungi teman A. Tidak tahu tentang suatu hal dalam agama, selain kepada suami saya juga bertanya pada teman B,C. Ingin tahu tentang penulisan, saya kirim sms kepada teman D. Capek mengutak-atik blog tetapi tetap tidak berhasil, saya tinggal mengetuk pintu kamarnya lalu minta diajarkan (ini dulu sich waktu teman tersebut masih di Blk 242). Nikmat yach dapat transfer ilmu dari mana2. Tidak hanya pengetahuan yang saya dapat, banyak hal2 lain yang tanpa mereka sadari menjadi masukan berharga untuk saya. Jadi teringat tausiah yang mengatakan jadilah manusia yang dapat memberikan manfaat bagi umat di sekitarnya. Keberadaan mereka memberikan manfaat kepada saya. Lalu, bagaimanakah keberadaan saya diantara mereka? Adakah saya punya ilmu untuk dibagikan kepada mereka? Ahh tidak mampu saya menjawab pertanyaan saya sendiri....

Jujur saja, saya sempat tercenung setelah membaca sms diatas. Ilmu apa yang saya punya? Apa yang dapat saya berikan kepada orang disekeliling saya? Saya tidak mau bermuluk-muluk, bahwa saya mempunyai sesuatu (bukan dalam bentuk materi) untuk dibagikan kepada saudara, teman, tetangga....Saat ini yang terpikir adalah, adakah saya sudah mentransfer ilmu kepada keluarga kecil saya? Bila sudah, apa? kapan? dimana? Apakah saya sudah menjadi good role model untuk kedua buah hati saya? Rasanya saya tidak bisa menjawab atau memang belum?

Alangkahnya indahnya bila suatu saat, mbak zaza dan ade qoni berkata, "Oh aku tahu itu, bunda dulu yang mengajarkan..." atau "Aku dapat hal ini dari bunda.... ". Dan mereka meneruskannya kepada anak2 mereka kelak .....







Sunday, June 24, 2007

SHE LOVES HER JOB

Setiap yang melakukan pekerjaan pasti akan ada konsekuensi yang mengikutinya. Konsekuensi itu bisa berupa pujian ataupun keluhan, tergantung bagaimana seseorang melakukan pekerjaaan tersebut. Jika melakukannya dengan sepenuh hati sehingga hasil pekerjaan memuaskan, tentulah pujian yang datang. Tetapi bagaimana bila pekerjaan itu dilakukan dengan serius, sungguh-sungguh, bukan pujian yang datang? Seperti kasus berikut ini.



Alkisah suatu siang, seorang mbak guide yang telah melakoni pekerj
aannya selama 15 tahun, membawa suatu rombongan ke beberapa tujuan (tourist aims) di negaranya. Selama di perjalanan tersebut, mbak guide itu menceritakan banyak hal tentang negaranya bahkan dibumbui sedikit dengan pengalaman pribadinya. Suasana yang sejuk dalam bis dan kondisi perut kenyang menyebabkan beberapa peserta rombongan terkantuk-kantuk.



Ketika sampai di tempat tujuan pertama, disinilah her professional occupation
itu 'diuji' oleh beberapa peserta dalam bentuk complain. "Unfortunately, you didn't tell us...etc,etc". Si mbak guide berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa dalam perjalanan tadi hal yang dikeluhkan itu sudah dijelaskan beberapa kali. Tetapi sang prof dan teman2nya kekeuh tidak terima. Akhirnya dengan besar hati, mbak guide itu meminta maaf atas misunderstanding yang terjadi yang mungkin disebabkan oleh bahasa Inggrisnya yang tidak dimengerti oleh sekelompok orang. Hmmm...tadi prof bobo yach....??


Perjalanan diteruskan. Ternyata hari itu memang hari ujian mbak guide. Kali ini yang diuji adalah kesabaran dan tanggungjawabnya sebagai seorang guide. Seorang prof Korea tidak kembali ke tempat duduknya pada saat rombongan akan melanjutkan perjalanan. Terbaca kecemasan di wajahnya. "It's a far away place from the University" begitu katanya pada seorang colleague sang prof. Sang colleague pun berusaha membantu dengan made several calls to him. They were to no avail. "his phone was always engaged. Perhaps he changed his phone no" kata collegue itu dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Mbak guide pun memutuskan untuk menyusuri lokasi yang dikunjungi dari ujung A ke ujung B beberapa kali, tanpa menemukan prof tersebut. "He is under my responsibility. Any luck?" sekali lagi dia bertanya pada colleague tersebut. Tiga orang anak asuhan sang prof pun dikerahkan untuk membantunya. Still, his whereabouts was unknown. Mencoba kontak dengan bis yang lain, barangkali saja this missing person ada disana. Tidak juga berhasil dikontak. Akhirnya setelah menunggu 40 menit didalam bis, didapat info melegakan sekaligus menjengkelkan. Ternyata, beliau salah naik bis! Beliau berada di bis yang pertama. Oleh supir bis yang pertama disarankan sang prof memberi tahu bahwa dia tidak kembali ke grupnya. Do you want to know how he responded to the driver's suggestion? "No. I don't think I need to call her to let her know that I join the other group". Arrggghhh Duuhhh prof, sampeyan bagaimana tho....Seorang prof Australia jokingly said " Later he is not dared to come back 'cause he is now everyone's enemy in this bus".


At the end of the day, she had chosen her job and she knew what consequences she might shoulder...


To my best friend in Holland Dr, are there any moral values behind this story?



Tuesday, June 12, 2007

MY INVALUABLE ASSISTANT

"Aku ga mau punya baby brother. Buang aja atau kasih sama tante yang belum punya anak!" teriak Zaza dengan kecewa setelah tahu bahwa bayi yang dikandung bundanya kemungkinan besar laki2. "Duuuhhh belajar dari mana kalimat itu sayaaang....." kata saya pelan. Itu dulu.

Sekarang dengan senyum sumringah Zaza akan berkata, "bunda, punya ade lagi doong. Lima ya". Gedubraaak! Dengan adenya Zaza akan berkata, "aku gemmmesss deh. Ade lucu!" Sejak baby Qoni lahir, Alhamdulillah sikap Zaza berubah 180 derajat, dari menolak punya adik laki2 menjadi menerima dan sayang pada adiknya.

Ya sejak saat itu Zaza sangat menikmati perannya sebagai seorang kakak. Sungguh saya memujinya karena dia mempunyai naluri untuk ngemong adiknya. She can always find ways to play with her toddler brother, to make him belly laughing. Reciprocally, the baby enjoys her company very much. He will clap his hands with joy whenever he sees his sister coming back from school. Saya yang melihat kekompakan mereka merasa amat bahagia. Perbedaan usia yang cukup jauh (8thn 4 bln) tidak menjadi penghalang bagi mereka berdua untuk bermain bersama.

Perbedaan usia it
u pulalah yang memberikan 'benefit' kepada saya . Selain membantu menjaga adiknya dengan mengajaknya bermain, saya sering minta tolong kepada Zaza. "Mbak, tolong siapin keperluan ade, mbak tolong buatkan susu ya, sayang tolong ambilkan ini dan itu donk...." dan masih banyak lagi. Zaza pun cukup terampil dalam melaksanakan 'tugas' yang saya minta itu. Demikian pula, jika pergi bertiga naik bis, Zaza yang membawa stroller. Jadilah dia 'asisten' saya. 'Asisten' yang capable!

Pernah suatu sore, setelah Zaza selesai kursus menulis di salah satu lembaga bahasa inggris disini, baby Qoni BAB. Tanpa buang waktu, saya mencari nursery room. Ada satu hal, baby Qoni sangat tidak nyaman jika saya mengganti diapernya di nappy changing station. Sudah diduga, Qoni akan menangis menjerit-jerit sambil menendang-nendangkan kakinya membuat saya amat kerepotan. Karena ingin segera mengganti dengan diaper yang bersih dan mendudukkan Qoni ke strollernya kembali sehingga ia berhenti menangis, saya memberikan diaper yang ada kotorannya kepada Zaza dalam keadaan terbuka. Zaza pun sigap membantu saya. Sesaat kemudian saya sadar dan melihat Zaza memegang diaper adiknya tanpa rasa jijik sama sekali, tidak membuang muka ataupun menutup hidungnya. Entah karena dia tahu, bundanya sedang kerepotan, membuat dia menahan diri. Nyessss.....hati saya terharu. Duuuhhh mbaaak....makasih ya atas bantuan dan pengertiannya.

Sejak hari senin tgl 11 sampai rabu tgl 13, Zaza mengikuti buddy camp yang diselenggarakan oleh mesjid Arraudhah. Untuk sementara saya tidak punya 'asisten'. Repot?? jelaslah. Tetapi yang lebih terasa adalah tidak terdengar tawa mereka berdua jika sedang asyik bermain, suara Zaza menyanyikan lagu-lagu yang ada di VCD Kidsongs, teriakannya bila sedang menggoda baby Qoni. Aahhh tidak sabar menunggu besok.




Mbak, maafin abi dan bunda ya...kalau masih suka marah karena mengangap Zaza lalai menjaga ade. But all in all, you are our priceless beautiful daughter and we know that you always put your heart in doing everything. Love you darling!


Friday, May 25, 2007

INDON?? NO!

Yup, saya juga! Gatal kuping saya jika ada penduduk local menyebut saya “Oh Indon....”. “Bukan kak! Saya orang Indonesia bukan Indon!”



Ckckck….Awal datang ke sini, sempat nggak ngeh kalau Indon itu Indonesia, lalu Bangla itu sebutan untuk orang Bangladesh. Apa susahnya sich menyebut secara lengkap? Lalu apa mereka mau dipanggil “Oohh orang Singa?” Nggak kaaannn....




Alasannya untuk menghemat huruf? Memangnya sms?




Saya tahu kalau Indonesia itu singkatannya INA (coba lihat kalau lagi pertandingan internasional). Tetapi dalam sms saya memakai kata “indo” untuk menyingkatnya. Khawatir kalau yang dikirim sms salah kira. “Mau ke ina?” “eh....ina mana yach?”..... berbalas kata dalam sms jadi panjang deh







(sedang menunggu pukul 2 dini hari untuk memberi obat mbak zaza yang lagi fever)

Thursday, May 17, 2007

IT'S NOT A LINEAR EQUATION INDEED

Sekitar jam 9.30 pagi hp saya berdering. Ternyata ada incoming call dari suami yang memberitahu saya bahwa baru saja suami berbincang2 dengan guru les mbak zaza. Menurut gurunya, mbak zaza memang punya kelemahan di vocabulary dan sentence structure. Terpengaruh dengan singlish demikian kata gurunya. Tapi overall mbak zaza sudah menunjukkan progress terlihat dari tulisan2 yang dibuat selama ini. Sang guru pun reassured my husband need not to worry. “As long as the progress is there, she’ll be doing fine. However, it’s strongly encouraged that she reads more books and they are not only fiction books but also non fiction ones to broaden her vocabulary record”.

Kemarin hasil ujian SA1 untuk bahasa Inggris sudah keluar. Hasilnya? Alhamdulillah bagus menurut saya…..Kok menurut saya? Ya, karena nilai yang diperoleh mbak zaza belum tentu dianggap bagus oleh orang tua lain. Well, never mind. I really don’t want to meddle with other parents’ business. Saya berusaha untuk melatih diri to keep my expectation over mbak zaza’s exam result in check.

Pada awalnya saya sulit untuk bersikap seperti ini. Previously, I definitely hung my expectation over anything or anyone quite high entah itu terhadap diri saya sendiri atau orang2 di sekitar saya. Jaman sekolah dulu, jika saya belajar dengan sungguh2, biasanya hasil sesuai dengan harapan. Tetapi bila cara belajar saya wes ewes ewes bisa dipastikan nilainya bablas amblas. Bila diumpamakan dengan persamaan linier dalam matematika y = mx + c dimana m dan c diambil konstanta positip sehingga harga y tergantung dari besarnya x. Semakin besar x, y akan semakin besar pula.. Hal inilah yang kemudian menjadi pelajaran buat saya adalah hukum pendekatan itu tidak berlaku dalam kehidupan.

Dua tahun yang lalu, saya mengambil partime course di salah satu lembaga pendidikan bahasa. Beberapa faktor antara lain besarnya biaya course dan kondisi dimana saya merasa sebagai ‘anak bawang’ diantara para peserta course, forced me to do extra work. Dan itu memang saya lakukan. Belajar hingga dini hari. Bahkan saat lebaran pun dimana keluarga kumpul, saya mengasingkan diri ke kamar atas. Ditemani oleh laptop, buku-buku dan artikel-artikel, saya fokus dengan urusan jawab menjawab quis. Saat ijazah beserta hasil ujian akan dibagikan, saya punya keyakinan bahwa nilai tidak akan meleset jauh dari harapan. Unfortunately, kenyataan berbicara lain. Hati rasanya seperti diremas2, sangat kecewa dan itu berlangsung berhari-hari. Mau tidak menangis tapi air mata terus mengalir.

I should have learned my lesson. Hanya saja untuk mengubah sifat yang sudah sedemikian rupa tidak mudah. Jika kekecewaan menyelinap tanpa permisi, masih saya tumpahkan dalam bentuk emosi yang meledak2. Sampai suatu saat saya melihat bagaimana mbak zaza merasa takut untuk memberitahukan hasil ujian matematikanya kepada saya karena nilainya yang dia tahu pasti tidak memuaskan saya. Itu adalah kartu mati untuk saya.

Hari ini, mbak zaza dengan suara pelan memberi tahu bahwa hasil SA1 science nya tidak sebagus English and Math. Lagi, perasaan kecewa itu mulai terasa. But I firmly said to my self that I had to curb my disappointment in low level. I wouldn’t vent it out in the form of anger. Setelah selesai sholat, saya ceritakan kekecewaan yang saya rasakan kepada mbak zaza. Bukan karena hasil yang sudah didapat tetapi lebih pada cara mbak zaza belajar. Memang untuk pelajaran ini she didn’t study as hard as she did with the other two subjects. Sungguh hanya dengan izin Allah, perkataan saya mengalir tanpa ada nada marah. Kami berdua menangis. Setelah semua unek2 dikeluarkan, nasehat diuraikan, dipercakapan diakhiri dengan pelukan dan ungkapan sayang saya terhadapnya. MasyaAllah. Nikmat rasanya bila kekecewaan itu tidak dilampiaskan dengan amarah. Suara tidak menjadi serak dan yang utama tidak ada hati yang terlukai. Alhamdulillah ya Allah. Bantu saya untuk tetap istiqamah dengan sikap ini, bahwa hasil dari suatu usaha yang dilakukan sepenuhnya hak Allah.

Friday, May 11, 2007

EVERYTHING YOU NEED TO KNOW ABOUT.....

Waduh judulnya panjang yach...... Sebenarnya itu judul dari buku science zaza. Hari senin tgl 14 (last exam day for this semester) mbak zaza masih ada ujian untuk pelajaran science. Selama kelas 4(P4) ini, buku dengan judul diatas adalah merupakan buku pegangan kami dalam mengajarkan zaza science selain textbook yang dipakai disekolah.

Seperti yang pernah saya ceritakan pada postingan terdahulu, pelajaran science untuk upper primary class lebih diberatkan pada kemampuan anak dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. Informasi ini saya dapat waktu saya bertemu dengan zaza's form teacher when she was in P3. "Where do you think the A star comes from?" tanya guru itu. Belum sempat saya menjawab beliau sudah menjelaskan lebih lanjut. "From those applied questions which answers need broader knowledge". Seorang kawan melayu saya sempat bercerita bahwa untuk pelajaran sains tidak cukup belajar dari textbook saja. Harus rajin mencari ilmu sendiri. Informasi2 yang saya terima ini saya rekam baik2 di dalam bilik memori.

Akhir tahun lalu, sebuah toko buku yang cukup popular disini mengadakan book sale di singapore expo. Kesempatan ini tidak saya lewatkan. Biasanya pada saat sale begini, buku2 assessment harganya lebih murah, jadilah saya membeli beberapa buku2 tersebut. Dari sekian banyak pilihan, saya biasanya memilih yang terbitan Marshal cavendish, EPH, EPB untuk buku math, Engl dan Scie. Pemilihan buku ini sebetulnya sesuai dengan kebutuhan saja. Saat akan membayar, secara tidak sengaja saya menemukan tumpukan paket buku2 science P4.Dalam satu paket ada 6 buku dimana tiap 1 buku membahas 1 theme misalkan tentang matter, heat, dll. I then scanned the contain briefly and decided to buy it (karena rekaman di kepala saya tiba2 ber"nyanyi")

Apa yang di"iklankan" dalam buku ini memang banyak membantu kami dalam menerangkan materi2 yang dipelajari zaza di sekolah. Diakui walaupun sudah dibeli, awalnya sempat ketar ketir juga. Bayangkan satu buku hanya untuk satu pembahasan saja. Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti sepenuhnya. Buku ini menjelaskan konsep secara detil dan mudah. Setiap teori yang dijelaskan selalu diikuti dengan percobaan. Tujuan, material yang digunakan, prosedur, observasi, penjelasan dan kesimpulan layaknya dulu saat saya membuat laporan praktikum. Selain itu buku ini juga memberikan contoh2 practice questions lengkap dengan penjelasannya.

Ternyata dikelas 4 ini, baik CA1 dan SA1 untuk pelajaran scie, materi kelas 3 juga turut diujikan. Karena belum punya yang seri kelas 3, saya pun memburu buku paket ini. Setelah selesai acara di SIS hari minggu lalu, saya merambah toko buku popular dibeberapa lokasi mulai dari orchard road, Jurong east dan berakir di jurong point mall. Itupun saya harus reserved dulu bukunya karena takut kehabisan.

Sama seperti buku P4, pembahasan tiap materi di buku ini juga mendalam dan lebih luas cakupannya dari buku text book. Walaupun demikian, bahasa yang digunakan tidak terlalu njelimet. Jadi tetap mudah dicerna. Saya akui tidak semua pembahasan disitu harus dicekokkan ke zaza
. Sebagian darinya cukup sebagai pengetahuan atau ilmu tambahan sementara ini. Biasanya untuk pelajaran yang membutuhkan hapalan seperti ini, zaza lebih dulu membaca buku tersebut setelah itu akan diterangkan lebih lanjut, entah oleh saya atau suami {tapi lebih sering dengan suami ding }

Saya bukan promotion department manager dari publisher itu. Jika boleh menyarankan, membeli buku ini tidak rugi. Banyak ilmu yang bisa didapat dari situ. Tidak hanya sekedar soal2 dan jawabannya saja. Satu lagi saran, jika mau beli tunggu saat book sale menjelang tahun ajaran baru. Karena perbedaan harga yang cukup signifikan (berdasarkan pengalaman pribadi neeeh)








Buat yang mau tahu buku itu: Everything you need to know about science by Educational Publishing House Pte Ltd.

Monday, May 7, 2007

CAN NOT ANSWER LOR!

1) A + B + B = 32

A + A + B = 28

What is the value of A + B ?

2) There are 136 pencils and pens in a box. 0.6 of the pencils is equal to ¼ of the pens. How many pencils are there in the box?

Hayoooo sapa bisa jawaaaab?

Soal2 diatas adalah soal2 ujian SA(semestral assessment)1 dari salah satu sekolah di Singapore (definitely bukan sekolah mbak zaza).

Saya sebagai orang tua dalam hati bertanya, apakah ini soal standard matematika untuk anak kelas 4 SD? Kalau memang soal standard berarti diharapkan semua anak kelas 4 itu bisa mengerjakan pertanyaan2 itu. Soal no 1 adalah soal eliminasi dengan 2 unknown variables. Sedangkan soal kedua adalah word problem yang sifatnya tricky (tidak bisa dikatakan soal mudah)

Karena zaza belum bisa, jadi tugas saya menerangkan. Nah, itulah yang menjadi masalah. Saya mengutak-atik bagaimana mencari cara mudahnya sehingga zaza mengerti. Biyuuung.....kenapa juga ada soal beginian siiihhh....

Begitu suami pulang, langsung saya “lempar” tugas menerangkan kepadanya, sebelum saya sutris melihat ekspresi muka zaza.

Setelah diterangkan beberapa kali oleh suami (+ my hubby's friend) dengan memberikan contoh soal yang hampir mirip dengan no 1, zaza gradually got the slightest idea. Alhamdulillah. Walaupun kelihatannya belum ‘klik’ banget. Tidak apa2. belajar dan belajar mbak!

Saya pernah menghadiri workshop matematika yang diselenggarakan oleh sekolah zaza. Tujuan workshop ini adalah memberikan tips2 bagaimana mengajarkan matematika kepada anak2 dirumah. Tetapi contoh soal2 yang diberikan sangat simpel jauh dari kategori diatas. Seandainya saya menjumpai soal2 ini lebih dahulu, sudah tentu akan saya tanyakan di workshop tersebut bagaimana caranya. (Rasanya lebih sreg kalau diterangkan langsung oleh guru yang bersangkutan daripada melihat dari buku2 assessment yang banyak dijual di toko buku disini).

Karena penasaran, saya mencoba mencari tahu tentang sekolah itu. Ternyata, sekolah tersebut adalah satu dari sembilan sekolah SD yang mempunyai program khusus yaitu Gifted Education Programme (GEP). GEP diperuntukkan bagi murid2 yang intellectually brightest. Students in this programme will be given vigorous curriculum which extends beyond basic syllabus.

Aha, saya berprasangka saja bahwa soal2 itu bisa jadi memang diluar garis standard. Sedikit lega.

Namun bukan berarti saya hanya ingin zaza mengerjakan soal yang mudah2 saja. Tentu tidak. Ada dua sisi. Sisi satu, memberikan soal2 yang bersifat challenging dapat memotivasi zaza untuk belajar lebih giat lagi. Sisi dua, memberikan soal2 yang bersifat challenging tapi malah membuat dia patah arang karena terlalu sulit. Sisi yang kedua ini tidak saya harapkan. Well, harus pintar2 cari soal deh....

Ayooo mbak, tetap semangat! Sebentar lagi ujian neehhh...*kok jadi bunda yang heboh begeneee*



Pssst, untuk soal no 2 diatas, seorang bapak dari 2 anak dan seorang calon bapak sampai berdiskusi bermenit2 (menjelang tengah malam pula) untuk mengetahui jawabannya

Thursday, May 3, 2007

BLOCK errr WHAT? BLOG???

Te: bunda, mampir ya ke rumahku

Sa: (dengan polosnya) Aduh maaf Fe. Bukannya saya nggak mau kesana, tapi kondisi badan kurang mengizinkan nich

Te: oh bukan. maksud fe ke rumah maya ini alamatnya (seraya menyebutkan url-nya)

Sa: apa?ooohhh block???? (masih nggak ngeh)

Sekelumit percakapan saya dengan seorang teman di suatu siang dua tahun lalu. Segera teman mengirim sms alamat jelasnya. Buka computer, connect internet, search alamat yang diberikan tadi. Criiing, muncullah sebuah tampilan yang cantik. Di dalamnya banyak cerita2 dan foto. Baru ngeh...ini toh yang dimaksud ‘rumah eh block’ itu.

Begitulah kira2 perkenalan saya dengan electronic diary ini. Ternyata sudah banyak teman2 lain yang saya kenal memiliki rumah maya ini. Waahhh kemana aja saya yah....sepertinya saya hidup di zaman yang berbeda dengan mereka.

Saya pada dasarnya memang kuper. Plus gaptek, sudahlah lengkap. Dunia ‘pergaulan’ saya semakin sempit sejak saya memutuskan mengambil part time course di suatu lembaga pendidikan disini. Sungguh, course ini memakan sebagian besar waktu saya sehingga 24jam/hari itu kurang rasanya (betul, nggak exaggerating).

Enough for reasoning. Back to business.

Sejak diperkenalkan blog itu saya rajin mengunjungi blog siapa saja…maafkan saya jarang meninggalkan jejak. Paling satu dua komen saja itupun tidak di semua rumah yang saya kunjungi. “Ckckck gimana bikinnya?” bertanya saya pada diri sendiri.

Singkat cerita, zaza yang sering juga melihat blog2 anak2nya teman mulai tertarik untuk memiliki. “Buatin dong bun” pintanya. “Waduuhh bunda belum bisa. Ntar yach mbak bunda belajar dulu”.

Mulailah mencari tahu tentang apa itu HTML. Alamakkk....rasanya seperti balik ke masa kuliah dulu belajar program PASCAL untuk mengolah data tugas akhir saya. Sistem kode2, loop dll.

Dengan modal template yang ada di blog, saya buatkan sebuah weblog untuk zaza. Belum sanggup mengutak-atik blog, akhirnya saya minta tolong sama teman yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia ini. Minta dibuatkan blog yang cantik untuk zaza dan inilah dia. Mudah2an zaza lebih sering meng-update posting2nya.

Saya pun ‘kecipratan’ untuk punya blog juga. Mengambil dari template yang ada lalu diubah sedikit jadilah blog ini. Itu pun bukan murni kerjaan sendiri karena masih ada campur tangan dari orang lain. Walaupun bisa dikatakan masih tipe ‘RS’ saya sudah bersyukur. Satu keinginan saya adalah merubah headernya. Well bila bila lah....

Menulis adalah suatu kelemahan saya. Sejak saya punya blog ini, saya belajar untuk menuangkan apa yang ada dipikiran saya dalam bentuk tulisan. Now I have a place to vent whatever thought that crossed my mind in the form of trebuchet-font-letter words.

Hanya saja sampai entry ini di publish belum ada keinginan untuk publicly introduce my blog. Just 1 orang kakak sepupu dan segelintir teman2 yang tahu bahwa saya sekarang one of the bloggers.


Thanks to
Febi karena sudah mengenalkan saya apa itu blog
Dini karena sudah mau direcokin dengan pertanyaan2 tentang html dan pengerecokan sepertinya masih akan berlangsung

Sunday, April 22, 2007

MY WEEKLY ACTIVITY

Setelah pindah kembali ke Bukit Batok, saya mendapat kabar bahwa ada banyak teman2 dari Indonesia yang bertempat tinggal di daerah ini. Mereka sudah bikin kumpulan arisan sebulan sekali. “kenapa juga tidak buat kegiatan pengajian” pikir saya. Lalu saya berinisiatif untuk mengajak teman2 membuat grup tahsin khusus wilayah Bukit Batok. Alhamdulillah responnya baik sehingga terbentuklah pengajian dengan 8 anggota (pertama). “Tinggal mencari guru nich” gumam saya.

Segera sms Febi dan mbak Lena tanya kira2 siapa yang bisa diminta pertolongan untuk mengajarkan ibu2 bukit batok membaca alquran. Akhirnya ada juga yang bersedia. Kebetulan calon guru yang baru datang dari Jogja ini memang punya pengalaman dalam bidang dakwah dan tahsin. Pas, cocok deh. Lewat salah seorang teman yang kenal dengan beliau, saya mendapat konfirmasi bahwa beliau bersedia mengajar saya dan teman2.

Singkat cerita Februari kemarin tahsin mulai berjalan. Setiap jumat jam 12 siang, walaupun mulainya sering mundur dari waktu yang ditentukan. Wajarlah. Ada toleransi untuk yang satu itu karena memang tiap anggota punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Ternyata teman2 serius dalam meraih ilmu. Ghirahnya tinggi. Tidak merasa malu karena harus memulai dari dasar. Saya pun jadi semangat. Ditambah lagi, guru yang mengajar sabar menghadapi ‘murid2nya’ ini. Maaf yah bu guru, saya sering nggak ikutan giliran karena sibuk meladeni sang pangeran tetapi sebisa mungkin tetap menyimak kok. Karena niatnya dari semula adalah belajar bukan sekedar datang dan ngobrol, materi pembelajaran berjalan lancar dan cepat. Tidak terasa sudah halaman sekian2. Minggu depan mau ada ‘ujian’ nich.Ayo belajar belajaaaarrr....

Seperti biasa, kalau ada kumpulan ibu2 pasti acara sampingan ini nggak ketinggalan. Makan2 tepatnya. Tuan rumah dengan ikhlas dan semangat 2007 menyediakan berbagai jenis menu makan siang + cemilan. Sudah tentu makanan khas Indonesia dan wenak2. Subhanallah. Perut kenyang, ilmu tambah. Nikmat dari Allah. Sambil menyantap siang obrolan pun berlangsung hangat. Canda tawa ditingkahi sesekali teriakan ibu2 melarang anak2 yang kadang bermain agak2 membahayakan.

Jika sudah selesai acara utamanya saya langsung pamit pulang. Bukannya tidak ingin bercengkerama lebih lama tetapi anak pre-teen saya sudah pulang sekolah. Selain itu, pukul 3 sore dia harus pergi ke ArRaudhah mosque belajar agama (madrasah). InsyaAllah minggu depan jumpa lagi.

Nah, ini member dari tahsin Bukit Batok.Bu guru Army berdiri paling kiri di barisan belakang. Lalu mbak Dewi yang paling sering nanya dan sering humor, Ati-paling semangat untuk dikasih PR bahkan minta (dalam foto Ati sedang menggendong anaknya Sitta), Sitta-saat ini satu2nya ibu yang sedang menyusui di kelompok tahsin BB. Yang paling kanan dibarisan itu adalah ibu Rina seorang dokter anak yang lagi “cuti” karena sedang mempersiapkan ujian persamaan agar bisa praktek lagi di salah satu rumah sakit disini. Barisan depan dari kiri Tetit-sering bawa potluck berupa kue2, Amy sang bendahara yang begitu antusias untuk menagih uang iuran, Nia-her preschool daughter is fluent in English dan saya sendiri yang tugasnya menyebarkan jadwal pengajian tiap minggunya. (Lokasi di ruang tamu rumah Amy, photographer Zaza, jumat 20 april)

Wednesday, April 18, 2007

COOKING OH NO!

Salah satu pekerjaan tumah tangga yang sampai detik saya menulis di computer adalah suatu pekerjaan mempunyai challenge yang besar adalah memasak!. Heran?? Bisa jadi, untuk sebagian orang yang punya hobi ngutak ngatik di dapur. Bila ditanya pilih mana menyetrika atau memasak? Pilihan saya pasti yang pertama. Memang sejatinya seorang perempuan mempunyai kecintaan terhadap aktivitas yang mempunyai hubungan langsung dengan pemanjaan perut baik perut sendiri maupun perut orang2 yang disayangi. Tidak dipungkiri saat ini rasa itu belum muncul LAGI dalam diri saya. Kenapa LAGI? Sudah pernah cinta sama yang namanya memasak sebelumnya?

Sebelum menikah bisa dikatakan saya jarang berkutat di dapur kecuali untuk masak indomie dan saat akan lebaran (pembantu pulkam, jadilah saya sebagai asisten chef). Ibu saya tidak pernah menyuruh saya untuk belajar memasak bahkan menjelang saya menikah. Salahkah ibu saya karena tidak mengajarkan anak perempuannya memasak? Tentu tidak! Saat suami datang kepada orang tua untuk melamar saya, ibu saya menegaskan bahwa saya tidak bisa memasak. Jika keberatan, proses tidak perlu dilanjutkan.

Memasak mau tidak mau akhirnya menjadi bagian dari hidup saya setelah menikah. Apalagi 2 bulan sesudah menikah saya dan suami harus terpisah dengan keluarga ribuan kilometer jauhnya menyeberang benua. Pelajaran memasak pertama saya dapat justru dari suami. Setelah itu mulai deh tanya teman sana sini. Ditunjang dengan alat2 masak yang cukup lengkap waktu itu, sedikit demi sedikit keterampilan masak saya mulai terasah. Started falling for cooking

Suddenly, harus pulang ke Jakarta. Mulailah keenakan dengan masakan yang sudah tersedia di meja makan tanpa harus bertungkus lumus di dapur. Tidak pernah memasak lagi. Kembali ke masa sebelum menikah.

Begitu pindah ke negaranya mbah LKY ini saya sudah mulai lupa resep masakan yang dulu pernah dibuat karena memang tidak pernah mencatatnya di buku hanya berdasarkan daya ingat. Karena kelamaan tidak dipraktekkan, resep2 tersebut slowly but sure hilang. Mulai dari awal lagi deh. Masak yang mudah2. Menu dari a ke f terus balik ke a . Untuk mencoba resep yang dulu saya mendadak malas (sepertinya cinta sudah memudar) karena alat2 penunjang kegiatan seperti microvawe, grill, oven besar tidak ada dan tidak niat beli. Mahal!

Alhamdulillah suami dan anak nggak rewel dengan menu yang sering berulang dan tidak selalu favorit masing-masing.

“Bun, bikin pizza lagi dong. Pizza buatan bunda enak tuh kulitnya tebal dan empuk. Apalagi toppingnya banyak” rayu suami suatu hari. Lain waktu “masih inget roti isi dan cream supnya nggak? Bikin dong”. Diingatkan begitu bukannya saya semangat untuk membuat malah senyum2 bangga “weis gua bisa yach bikin pizza en roti”. Karena cuma senyum2 saja si pizza dan roti isi tidak terhidanglah di meja makan.” Maaf deh bi..... Lagian nggak ada oven tuh....”. Biasaaaa alasan.... Kalau yang ini agak susah untuk ‘ngeles’nya. Semalam suami bilang lagi “bunda nggak pernah buat salad buah lagi? Terus buah kaleng dicampur susu dengan aroma pandan juga nggak?”. Buatnya memang gampang dan nggak perlu oven dll. Ditagih begitu saya nyengir2 ajah....Dalam hati, ya deh kapan kapaaaan....(dilagukan seperti lagu Koes Plus itu lho)

Bila berteman dengan orang pintar, kita pun akan terikut pintar. Nah, saya sebenarnya dikelilingi oleh teman2 yang hobi dan pintar masak. Sahabat saya disaat hamil tua pun masih menyempatkan diri membuat berbagai jenis kue kering. Subhanallah! Teman yang sekarang sedang di rumah juga jago masak. Tapi ‘virus’ cinta memasak ini belum tertular ke saya. Mungkin ‘antibodi’ yang diproduksi oleh tubuh saya cukup kuat untuk menangkis serangan ‘virus’ ini.

Jujur saja, sebab dari belum munculnya keinginan untuk belajar memasak lebih karena saya cenderung untuk membagi waktu saya dengan aktivitas2 yang lain salah satunya ya ini, typing rambling story, dan saya pun mempunyai program lain yang ingin saya jalankan.

Nantilah mudah2an suatu saat adrenalin dalam tubuh akan membuat saya bergairah kembali untuk bersibuk ria di dapur sehingga tidak ada perkataan “itu panci tefalnya mau dilaminating terus dipajang ya? Juicer juga?”. Weiks....

Monday, April 16, 2007

IT'S ONLY A PIECE OF A TORN PAPER

Artikel di bawah ini bukan saya yang menulisnya tapi seorang kawan yang memang penulis.

Setelah minta izin sama yang punya tulisan, saya mengcopy-pastekan untuk disimpan disini. (Hanya saja tidak bisa diambil gambarnya...maklum kemampuan ngeblog saya sangat terbatas)

Saya terkesan dengan artikel yang pernah juga dimuat di Eramuslim online ini. Kisah sederhana yang berdasarkan pengalaman pribadi tetapi memberi pelajaran yang cukup ‘menyentil’ saya. Ahhh....bunda kakak zaza jadi malu nich sama nida....

Silahkan membaca dan merenungi. Mudah2an ada manfaatnya.

Untuk yang ingin tahu tulisan2 lain dari kawan saya ini, silahkan mampir ke rumahnya yang disini dan disana .

===================================================

Tak sampai selembar kertas

Seperti biasa, Nida selalu melakukan ritual sebelum tidur. Tadi, setelah ritual-ritual itu usai dilaksanakan, tiba-tiba dia turun dari tempat tidurnya.

“Ehh...Nida kan punya paper dari Aqila.” Serunya gembira seraya melesat menuju ruang tamu. Mengambil sesuatu dari tas sekolahnya yang tergeletak diatas sofa.

Pikir saya saat itu, pastilah paper dari Aqila, teman sekolahnya itu, sesuatu yang sangat berharga bagi Nida, terlihat dari bahasa tubuh dan riang nada suaranya.

Saya bayangkan rupa paper itu. Seperti apa ya? Ada gambarnyakah? Warnanya? Apa ada tulisannya?

Dan ketika Nida menghampiri saya sambil memperlihatkan ‘paper berharga’ itu dengan paras bangga. Saya tercenung...

Seperti ini? Gumam hati saya.

Hanya seperti ini?

Dan Nida sedemikian senang menerimanya? Bisik hati saya lagi.

Mata saya menghangat. Hati saya basah. Menulis artikel ini pun dengan perasaan haru dan airmata yang hampir luruh. Keluguan, kepolosan dan ketulusan Nida menerima pemberian temannya menyentuh nurani saya.

Tak sampai selembar kertas, hanya secuil kertas polos putih kira-kira 8 x 5 cm, dengan salah satu tepi tak rata (mungkin karena sobekan yang tak sempurna) bahkan tanpa segaris bentukpun dan Nida begitu bahagia menerimanya. Apa yang dirasakannya ketika temannya memberikan ‘hadiah’ itu?

Tak sampai selembar kertas....dan Nida sangat suka cita...?

Bagaimana dengan saya?

Begitu banyak anugerah, karunia yang telah diberikanNYA pada saya. Sangat banyak. Tak terhingga. Tak terhitung bahkan jika tintanya adalah tujuh lautan sekalipun.

Seperti apa saya menerimanya?

Ada sebongkah cinta dicurahkan oleh orang-orang terkasih.

Lalu sejumput perhatian dari teman-teman yang baik.

Seperti apa saya menerimanya?

Tak jarang saya begitu berterimakasih untuk pemberian yang ‘besar’ dan nampak secara kasat mata. Senantiasa mengingat-ingat cenderamata yang teraba wujudnya secara ‘nyata’.

Sementara begitu banyak pemberian yang terlihat kecil dan remeh temeh yang saya anggap biasa. Padahal tak ada pemberian yang sepele kecuali diri sendiri yang menganggapnya tak berharga.

Pada secuil kertas putih bersih yang bentuknya saya ‘abadi’kan pada gambar diatas, Allah menuntun saya memetik hikmah tentang ketulusan dan wajah sumringah Nida ketika menerimanya dari Aqila.

*****

Singapore, ketika secercah cahaya menyelinap relung hati…

Friday, April 13, 2007

DON'T BREED DANGER IN YOUR HOME

Berdasarkan informasi yang saya baca di liputan 6 SCTV, pemerintah provinsi Jakarta telah menetapkan KLB di wilayah Jakarta karena pasien penderita DBD semakin meningkat di sejumlah rumah sakit. Bulan maret lalu saat saya dan anak2 liburan ke Jakarta, di komplek saya tinggal dilakukan fogging karena dalam 1 rukun tetangga terdapat 2 warga yang terserang DBD.

DBD tidak saja mewabah di Indonesia. Akhir tahun lalu pun, penduduk disekitar flat saya ada yang menjadi korban DBD. Segala upaya pemberantasan dilakukan pemerintah Singapur.Bila perlu denda up to Sing$5000 bagi siapa saja yang ditemukan breed danger di rumahnya. Yalaaah, singapore is a ‘fine’ country whaat....

Teringat waktu saya dulu menjadi pasien DBD. Tidak terbayang bahwa saya akan terjangkiti penyakit ini. Awalnya tidak ada keluhan apa2 seperti pusing atau nggak enak badan. Sabtu siang sepulang dari Makro, badan saya meriang dengan temperatur 39.3C. Saya pikir kecapekan. Minum panadol. Tetapi hingga keesokan harinya panas tidak turun significant hanya bergeser sedikit. Saya mengambil keputusan untuk pergi ke RS JMC. Dicek oleh dokter masih panas lalu diberi obat anti virus. Disarankan untuk ambil darah 2 hari kemudian jika tetap demam.

Senin siang saya kembali ke RS JMC lalu diminta untuk ambil darah siang itu juga. Hasilnya positif DBD dan tifus. Dokter mengharuskan saya opname paling lambat malam itu. “jangan ditunda lagi bu! Ini sudah 131.000 trombositnya”. Dueeeng!!! Lemas badan saya. Yang terpikir saat itu adalah bayi saya yang masih menyusu. Kalau saya harus masuk rumah sakit bagaimana dengan bayi saya. Konsultasi dengan dokter yang periksa boleh tidak tetap menyusui. Dokter tersebut menyarankan ASI dipompa saja, bayi jangan diantar ke rumah sakit. Itupun masih harus ditanyakan dulu sama Dokter spesialis penyakit dalam yang akan merawat saya. Selain itu juga biaya rumah sakit. Baru 2.5 bulan lalu melahirkan dengan biaya yang cukup menguras tabungan.

Pulang ke rumah dengan perasaan kacau balau. Demi anak2 dan orang tua, air mata saya tahan2. Telpon teman yang pernah kena DBD. Sarannya sama, segera rawat inap. Lalu suami telpon dan menyarankan hal yang sama. Selain itu juga suami berusaha pulang selasa pagi (padahal sebelumnya sudah book tiket ke Jakarta kamis malam). “Qoni gimana ya?” saya bingung dan panik. “Biar Qoni sama ibu. Sekarang kamu beli susu untuk dia di koperasi” tegas ibu saya.

Malam itu juga baby Qoni di’training’ pake susu botol. Nggak mau, nangis meronta2. Mungkin yang sudah punya anak bisa membayangkan perasaan saya saat itu. Akhirnya, bismillah saya pergi juga ke rumah sakit tanpa mau mencium baby qoni dan zaza. Khawatir jebol ‘tanggulnya’. Mulailah malam itu perjuangan saya melawan demam berdarah.

Dirumah sakit langsung di cek sama DR Spesialis penyakit dalam. Beliau bingung lihat saya yang lagi ambil air wudhu untuk sembahyang isya. “Ibu yang sakit DBD kan? Masih kuat? Berapa sih trombositnya?” tanya beliau. “panasnya dah lama ya? Dari kapan? Kok trombositnya 131.000” lanjutnya. Saya jelaskan apa adanya.

Sewaktu sakit itu, nafsu makan hilang. Setiap kali makanan diantar ke kamar uggghh rasanya BT banget. Menghabiskan separuh porsi saja sudah hampir muntah2…. Baru terasa, sehat itu nikmat yang besar dari Allah.

Hari-hari selanjutnya trombosit saya makin rendah. 116.000, 105.000, 69000, 29000. Tidak boleh mandi hanya dilap, tidak boleh sikat gigi, hindari benturan keras anggota tubuh dengan benda2 yang ada di kamar.Banyak minum. Alhamdulillah saat trombosit saya turun terus, kondisi badan saya tetap stabil dalam artian saya tidak sampai halusinasi/mengigau, ke kamar mandi masih sanggup sendiri kecuali untuk buang air kecil. Karena terlalu sering saya minta untuk suster jaga membantu saya. Pipis di pispot gitu

“Bu, trombositnya turun lagi ya. Sekarang 29000”. Saya sudah mulai deg2an....kok turun terus yach. “Biasanya gitu kok bu....sampai hari ke 5-6 nanti hari ke 7 akan naik jika temperaturnya sudah normal” kata suster berusaha menenangkan. Waktu itu suhu badan saya masih 37C. “saya juga baru saja kena DBD waktu hamil 3 bulan bu” cerita seorang suster lain yang sedang melap saya pagi hari. “Trombositnya terakhir berapa?” saya ingin tahu. “25000 terus naik” jawabnya. Dalam benak saya besok bisa jadi trombosit naik karena sudah mencapai level 29000. Semakin rajin saya menegak segala jenis minuman. Air putih, jus jambu, minuman kaleng po--ri s----t, Ankak (minuman yang katanya bisa menaikkan trombosit dengan cepat).

Jam 6 pagi, rutinitas dimulai dengan ambil darah. Berharap2 cemas. Mudah2an sudah naik. Tiba2 pintu kamar dibuka, “ bu masih turun, 19000”. Duughh. Saya pasrah. Tidak membohongi kalau saya sudah berpikiran macam2. Kondisi yang terburuk yang mungkin terjadi. Sedih dan takut itu jelas. Terbayang anak2 saya. Wajah mereka apalagi yang baby itu. Terngiang2 celotehnya ketika bangun tidur. Teringat amalan2 saya yang masih minim. Suami nggak berani pulang karena pasti ditanya oleh orang tua saya tentang keadaan saya. “Kemarin bapak tiba2 sakit dengar bunda trombositnya turun terus” kata suami saya. SMS teman2 mohon doa dan juga dimaafkan kesalahan2 saya. Pokoknya dah pesan2lah.

Dokter memberi pilihan antara observasi dan transfusi. Suami meradang. “Sebagai dokter, anda yang lebih paham tentang kondisi istri saya. Bagaimana sebaiknya. Apa yang harus dilakukan segera. Bukan memberi pilihan seperti ini” begitu argumen suami saya. Akhirnya melihat kondisi saya yang stabil dokter tersebut memilih observasi dulu sampai besok hari. Suami pun mencari second opinion kepada adik sepupunya yang juga dokter spesialis. Pendapatnya sama. ‘Lihat saja dulu karena transfusi juga belum tentu menyelesaikan masalah’. Walaupun demikian istri kakak ipar bergerak cepat. Beliau mengontak temannya di PMI untuk menyiapkan 5 ampul golongan darah B jika besok saya butuh.

Sore jam 5.30 saya diambil darah lagi. Deg-degan lagi. Berapa yah? Sudah naikkah? Kakak2 ipar, bujing2 (tante dalam bahasa batak) kumpul di dalam kamar. Saya terhibur walaupun tetap sport jantung. “Brak!” pintu dibuka dengan keras. Semua kepala menoleh kearah datangnya suara. Saya sendiri menatap suster tersebut dengan pandangan aaahh....(nggak tahu mengungkapkanya). “naik bu, 26000”. “Alhamdulillaaah” terdengar koor panjang. Saya pun mengucapkan syukur kepada Allah. Legaaaa rasanya. Sekarang bisa tertawa dengan lepas tanpa beban.

Tetapi cobaan nggak sampai disitu. Sehari menjelang pulang, tiba2 kepala bagian belakang sebelah kiri berdenyut2 yang membuat saya nggak bisa tidur. Rasanya jangan ditanya. Dikasih obat penenang, obat tidur tetap saja nggak mempan. Obat2an yang diberikan kepada saya memang dosisnya terbatas karena saya masih menyusui. Walaupun obat2 ini pula pada akhirnya ASI saya sempat berhenti beberapa hari.

Setelah 9 hari dirawat saya pulang dengan kepala yang masih berdenyut2 dan harus cek ke dokter spesialis saraf pada sore dihari yang sama saya discharge dari hospital. “Ini hanya spasm bu. Saya kasih obatnya. Setelah ini cek lagi dengan dokter spesialis penyakit dalam ya” jelas dokter. Arrrghhh....Sebelum berangkat tadi bapak saya sempat khawatir.”Lho eneng opo mbalik nang omah sakit meneh?kowe ora opo2 tho?”.

Namun di balik cobaan ada hikmah. Janji Allah pasti benar. Alhamdulillah ada kejadian luar biasa yang dialami keluarga saya sewaktu saya jatuh sakit dan saya sangat bersyukur. Inikah jalannya? Sepertinya hidayah itu datang lewat sakitnya saya. Wallahu a'lam


Saya berterimakasih kepada semua keluarga/saudara dari pihak saya dan suami, teman2, tetangga yang sudah menyempatkan datang menjenguk dan memberikan doa untuk kesembuhan saya.

Tuesday, March 27, 2007

BOOK FAIR, EVERYONE!



Weks sudah sebulan lebih saya nggak ngapdate nich. Alasan klise....ibu rumah tangga yang sok sibuk. Ngerti kaaan.....Di samping itu pada term 1 school holidays kemarin, saya dan anak2 mudik. Jadi ini oleh2 dari sana.

2 minggu lalu saya dan keluarga pulang ke Jakarta....kangen sama ortu...Selain itu keinginan besar untuk datang ke Islamic Book Fair di Gelora Bung Karno. Selama ini belum pernah mengunjungi pameran buku islam di Jakarta. Jadilah ini yang pertama. Makanya begitu tahu ada book fair langsung diniatin deh, kebetulan pula dapat izin dari suami. So terbanglah kami ke Indonesia hari jumat tanggal 9 maret.

Keesokan harinya segera berkunjung ke pameran tersebut dengan rombongan (saya, 2 anak dan ibu). Sudah bisa dipastikan pameran penuh dengan pengunjung karena hari sabtu dan tinggal last 2 days. Begitu sampai disana saya langsung terkena frenzy book shopping syndrome.Masya Allah...buku-bukunya banyaaaakk (karena penerbitnya juga banyak) dan harganya lumayan terjangkau (diskon sampai 50% bahkan ada yang lebih). Sibuklah saya mencari buku-buku yang sudah ada dalam list. Alhamdulillah hampir semua dapat kecuali buku komik quran untuk zaza dan Ar-Rasul karangan Said Hawwa.

Sebenarnya passion belanja buku saya belum terpuaskan sepenuhnya. Tapi saya tahu diri, ada baby dengan stroller yang membuat tidak mobile dan ibu tercintah yang sudah berumur. Disamping itu zaza juga sudah mulai mengeluh. “Banyak orang bunda, penuh, panas”…”Duuhh naak ini Jakarta bukan Singapore…please extend your patient darling”. Akhirnya kami pulang dengan beberapa kantong kresek isi buku. Happy itu sudah pasti. Tinggal mengatur waktu untuk membacanya.

Selama tinggal di negeri liliput ini, saya baru satu kali (itu juga kebetulan) mendatangi pameran buku islam yang diselenggarakan di pelataran mesjid Kasim di Kembangan. Pameran itu diikuti oleh HANYA SEKIAN TOKO BUKU ISLAM (bisa dihitung dengan jari tangan saja) dan buku yang dijual tidak banyak. Entah kenapa saya kuper tentang pameran buku islam disini sehingga kurang mendapat informasi. Padahal sudah mencari lewat internet tapi tetap saja tidak berhasil mendapatkannya.


Selain itu harga buku2 islam disini juga cukup menguras kocek (menurut saya). Sebagai contoh buku cerita anak2 yang hard cover rata2 dijual diatas Sing$20 (kira2 Rp 120.000), yang paperback dengan range antara Sing$6-10. Kalaupun dijual di pameran buku, discount yang diberikan max 20%. Apa boleh buat demi anak dan ilmu.

Pameran buku memang sering diadakan di Singapore seperti misalnya Popular Book Sale. Penguins Book Sale, yang biasanya mengambil lokasi di Singapore Expo, Brash Basah Complex book fair, tapi buku-buku yang dijual adalah buku-buku non islam. Ada juga Singapore World Book Fair di Suntec City. Disini paling satu dua toko buku islam yang berpartisipasi dari puluhan partisipan yang menjual buku2 umum. Informasi tentang kegiatan ini mudah didapat. Harga buku juga memiliki range yang luas bermula dari $1 atau $5 untuk 3 buku (hard cover pula). Hanya saja harga ini tidak berlaku untuk buku2 islam di pameran tersebut.

Itulah sebabnya saya begitu semangat untuk datang ke pameran buku islam di Jakarta baru2 ini. Saya pun berharap kelak ada pameran buku2 islam yang besar di negeri ini. Bisa ditebak, saya akan menyambanginya.

Tuesday, February 27, 2007

SAVING, NEEDS vs WANTS

Waktu jaman masih kerja kantoran, setiap akhir bulan dah menghitung kira2 bulan ini berapa yang tersisa dari yang didapat. Padahal gaji juga belum seberapa karena masih fresh graduate jadi belum punya ‘nyali’ untuk bargaining take home pay-nya. Supaya bisa nabung agak banyak harus ngirit makan siang.(kalau ingat sekarang geli sendiri karena bisa 3 hari dalam seminggu cuma makan mi bakso + rujak!). Kegiatan menabung bukan untuk beli pernak-pernik wanita yang ngantor atau untuk cicilan rumah tapi untuk bayar biaya telpon yang lumayan gede karena sering telpon overseas (mantan pacar waktu itu tinggal diseberang benua). Duuh segitunya yah.... Tapi itu belasan tahun yang lalu kok.

Buat saya, menabung adalah suatu sikap disiplin dan itu bukan hal gampang. Sebagai wanita biasa mudah tergoda dengan yang namanya sale.Walaupun tidak semua jenis barang sale akan menarik perhatian saya. Hanya, jika kata sale itu melekat pada barang tertentu, kata menabung mendadak turun ratingnya .... Tapi Alhamdulillah, pendamping hidup selalu mengingatkan untuk bisa commit dengan tindakan menabung ini.

Kebiasaan menabung memang sedianya dimulai dari usia dini. Saya dan suami mendidik cahaya mata untuk mengenal arti menabung dan mengetahui keuntungannya sejak dia tahu nilai uang. “Za, sisa uang jajan/uang hari rayanya ditabung ya. Jangan lupa” begitulah nasehat kami selalu. Karena seringnya kami mengingatkan, pernah ada kejadian. Zaza ingin membeli suatu mainan. Saya berkata padanya untuk menabung dulu. Dengan tangkas dia menjawab “aku sudah menabung, nich ada sekian dollar”. Saya speechless . Selain jawaban yang mengena, harga mainan yang diminta berkali lipat tabungannya.Ternyata konsep menabung tidak cukup sampai pada kebiasaan menyisihkan uang saja tetapi ada konsep lain yang mengikutinya yaitu bisa membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), mana keuntungan dan mana kerugian.

Tanpa buang waktu, kami memperkenalkan konsep tersebut. It was not easy at start. Seiring waktu Alhamdulillah sedikit demi sedikit Zaza sudah bisa menerima konsep ini walaupun tidak jarang saya harus melihat dia BT bahkan berlinang air mata karena penerapan konsep itu. Masih lebih besar kenginan daripada kebutuhan. Bukan sepenuhnya kesalahan zaza, kami pun kadang inconsistent dalam pelaksanaannya.
Su:kita beli kok zaza nggak dibeliin yach.Kasian ah.
Sa: jadi mo dibelikan? Yang dia punya masih bagus
Su: beliin deh
Nah....

Bulan lalu zaza mendapat semacam brosur informasi tentang “how to manage your pocket money wisely – saving the sensible habit” dari sekolahnya. Informasi dikemas sedemikian rupa menjadi menarik untuk anak2 SD. Menurut zaza lagi, selain brosur juga di buat shownya. Great concern yang diberikan oleh bank dan lembaga swasta disini untuk mensosialisasikan kegiatan menabung dan mengajarkan anak untuk membuat solusi pilihan antara wants dan needs.



Jadi inget lagu Titiek Puspa tentang lagu menabung di tahun 80an

bing beng bang yok kita ke bank
Bang bing bung yok kita nabung
Tang ting tung hei jangan dihitung tahu2 tiap bulan dapat untung.


(ada yang tahu lanjutannya?).